
Jakarta
(ANTARA) - Partai Demokrat dinilai akan memenangkan pemilu apabila
dilaksanakan saat ini, walaupun kinerja pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono masih ditanggapi dengan ekspresi keraguan.
Hal itu tercermin dalam temuan survei yang dilaksanakan Prisma Resource Center-LP3ES selama Agustus 2012-September 2012, yang dirilis di Jakarta, Minggu.
Responden survei itu menunjukkan bahwa Partai Demokrat berada di tempat teratas dengan raihan 12 persen, diikuti Partai Golkar dengan 10,8 persen, PDI Perjuangan 9,4 persen, lalu Partai Gerindra dengan 4,8 persen.
Lalu diikuti PKS dengan 4,5 persen suara, PKB dengan raihan suara 3,5 persen, Partai NasDem dengan 2,5 persen, lalu PAN dengan 1,6 persen.
"Jawaban dari mereka yang telah menetapkan pilihannya sebagian besar terdistribusi pada partai politik papan atas yakni Partai Demokrat, Partai Golkar, dan PDI Perjuangan," kata Peneliti Prisma Resource Center, Rahadi T Wiratama.
Sebanyak 22,2 persen responden masih merahasiakan pilihan, 20,2 persen tidak tahu atau tak menjawab, dan 4 persen memilih tak ikut memilih.
"Jenis jawaban ini besarnya lebih dari 40 persen. Fenomena ini dapat dibaca sebagai swing voters. Perkembangan pilihan mereka tergantung dinamika politik ke depan," kata Rahadi.
Uniknya, saat para responden ditanyai soal kinerja kepemimpinan Presiden SBY, sebanyak 38,4 persen responden menjawab kinerjanya biasa saja, relatif sama dengan 38,5 persen responden lainnya yang menyatakan rasa tak puas dengan kinerja presiden.
Responden yang mengapresiasi positif kinerja kepemimpinan Presiden SBY hanyalah 18,3 persen saja. "Kinerja Pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo ditanggapi dengan ekspresi keraguan," ujarnya.
Survei itu memiliki 2300 responden yang tersebar di 33 provinsi. Penentuan jumlah responden adalah secara proporsional dengan mengacu pada jumlah penduduk dewasa di seluruh tanah air.
Penentuan wilayah pada masing-masing provinsi dilakukan dengan mengacu pada daerah pemilihan (dapil), lalu dilanjutkan pada pemilihan tingkat kelurahan/desa, RW, RT, hingga rumah tangga. Proses penentuan dilakukan dengan memakai metoda acak bertingkat, atau multistage random sampling, berusia di atas 17 tahun.
Para responden terpilih diwawancara secara tatap muka, dimana 50 persen diantaranya adalah perempuan. Survei ini diperkirakan memiliki margin of error 2,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Ditemukan juga bahwa para media massa yang digunakan para responden untuk mendapatkan informasi paling banyak adalah televisi, jumlahnya 83,4 persen. Selanjutnya surat kabar 5,4 persen, radio 2,1 persen, internet 1,2 persen, majalah 0,5 persen, dan tabloid 0,2 persen.
Wakil Sekjen Partai Demokrat Saan Mustopa, Wakil Sekjen Partai Golkar Nurul Arifin, dan peneliti CSIS J Kritiadi hadir sebagai narasumber menanggapi hasil survei tersebut.
"Dari hasil survei ini, hampir 9 persen pemilih PD meninggalkan kami. Kami melihat bahwa ini belum bisa diambil partai lain. Karena partai lain juga alami penurunan tapi hanya semakin menambah suara swing voters," kata Saan.
Dikemukakan Saan bahwa menurunnya suara PD terbukti tidak memberi manfaat elektoral pada partai lain karena yang muncul adalah swing voters.
"Itupun belum bisa kita simpulkan suara akan lari ke mana, karena mereka sangat tergantung dinamika. Misalnya hari ini dia kecewa pada PD. Tapi apakah itu akan permanen? Ataukah kekecewaan itu bersifat sementara? Kalau sementara, semisal ada perbaikan di PD, maka kemungkinan mereka akan kembali lagi ke PD," paparnya.
Yang pasti, kata Saan lagi, swing voters yang tinggi merupakan bentuk keraguan ke parpol dan harus memacu parpol untuk bekerja lebih keras. Kalau ketidakpercayaan publik pada parpol dibiarkan, dan parpol tak memperbaiki diri, maka kepercayaan publik akan terus tergerus. Padahal bagaimanapun demokrasi tak mungkin tanpa parpol.
"Buat kami dari PD, yang sedang dirundung masalah, hasil survei ini masih menunjukkan ada apresiasi kepada PD. Tinggal bagaimana tingkat kekecewaan ke PD bisa dipulihkan. Mudah-mudahan kekecewaan ini bersifat sementara. Sehingga swing voters bisa kembali memilih PD," ujarnya.(ar)
Sumber : ANTARA ( Kantor Berita Indonesia )
Editor : Atep Supriatna


Posting Komentar