
Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu Terancam Rusak
SOREANG, (PRLM).-Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu
yang terletak di wilayah Kecamatan Ciwidey, Pasir Jambu dan Pangalengan
Kabupaten Bandung merupakan kawasan hutan konservasi sekaligus hutan
hujan dataran tinggi yang strategis dalam memberikan layanan alam dan
ekosistem di wilayah Bandung Bandung Selatan. Namun akhir-akhir ini
terjadi perambahan kawasan hutan konservasi yang diduga dilakukan Pusat
Penelitain Teni dan Kina (PPTK) Gambung dan para petanu sayur mayur.
"Sebagian besar ketersediaan air di wilayah sekitar Gunung Tilu di
pasok dari kawasan hutan Gunung Tilu. Bahkan, kawasan Cagar Alam Gunung
Tilu juga memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna endemik
Jawa Barayang penting untuk diselamatkan dari ancaman kerusakan dan
kepunahan," kata Koordinator Pusat Forum Komunikasi Kader Konservasi
Indonesia (FK3I), Dedi Kurniawan, dalam pernyataannya ke "PRLM", Minggu
(4/11).
Berdasarkan data yang ada, keanekaragaman flora yang ada di antaranya
Saninten (Casonopsis javanica), Rasamala (Altingia exelsea), Kiputri
(Podocarpus sp), Pasang (Quercus sp), Teureup (Artocarpus elasticus),
Puspa (Schima walichii), Kondang (Ficus variegata), Tenggeureuk
(Castanopsis tunggurut) dan lain-lain. Sedangkan keanekaragaman fauna
yang masih ada diantaranya Macan Tutul (Panthera pardus), Bajing
(Calcoselurus notatus), Kera (Macaca fascicularis), Owa (hybolates
moloch), Kijang (Muntiacus Muntjak), Lutung (Trachypitechus auratus),
Surili (Presbytis comata), Burung Dederuk (Streptopelia bilorquata),
burung perkutut (Geopelia striata), Ular Sanca (Phyton sp) dan
lain-lain.
"Namun, kini keberadaan dan ekosistem di kawasan Cagar Alam Gunung
Tilu terancam rusak oleh beragam praktik perusakan ekosistem Gunung
Tilu. Berdasarkan hasil investigasi FK3I di lapangan, terdapat aktivitas
pertambangan dan pertanian sayuran dan olah tanah yang menyebabkan alih
fungsi kawasan dan merusak layanan ekosistem Gunung Tilu. Hasil
investigasi menunjukan bahwa terjadi praktik perambahan yang diduga
dilakukan oleh Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung dan petani
sayur yang terindikasi diketahui dan dibiarkan," katanya.(A-71/A-147)***
Sumber : Pikiran Rakyat ONLINE
Minggu, 04/11/2012
Editor : Atep Supriatna 

Posting Komentar